TEKNOLOGI INFORMASI 12_MIN_READ LEVEL: ADVANCED

Tren Vibe Coding dan Mentalitas Orang Indonesia: Perspektif Teknologi, Humaniora, dan Psikologi

Kusuma Dewangga // INSIGHT // DIPUBLIKASI 2026.08.07

ARTICLE INTEGRITY

RETA DATE: ART-23-K

Language: Teknologi Informasi

License: MIT

Bagikan: WhatsApp X
Link pendek: https://www.sukasapi.com/s/ZVw8AZW
Tren Vibe Coding dan Mentalitas Orang Indonesia: Perspektif Teknologi, Humaniora, dan Psikologi
Fig: Tren Vibe Coding dan Mentalitas Orang Indonesia: Perspektif Teknologi, Humaniora, dan Psikologi

Mengenal tren vibe coding di Indonesia serta bagaimana mentalitas lokal memengaruhi pola belajar, kerja, dan inovasi teknologi dari sudut pandang teknologi, budaya, dan psikologi.

Vibe Coding di Indonesia: Bukan Sekadar Ngoding, tetapi Tentang Cara Kita Bekerja

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah vibe coding semakin sering terdengar di kalangan developer. Perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari perubahan cara orang membuat software. Jika dulu coding identik dengan seorang programmer yang duduk sendirian di depan komputer, menulis kode baris demi baris, sekarang prosesnya jauh lebih dinamis. Developer bisa berdiskusi dengan tim melalui Discord atau grup komunitas, mencari solusi melalui dokumentasi, membuat prototype dengan cepat, kemudian menggunakan AI untuk membantu menulis kode, menjelaskan error, atau mencari alternatif solusi. Dalam konteks Indonesia, perubahan ini menjadi menarik karena bertemu dengan budaya kerja yang sebenarnya sudah lama kita kenal: kolaborasi dan gotong royong.

Apa Sebenarnya Vibe Coding?

Vibe coding sering digunakan untuk menggambarkan cara membuat software dengan bantuan AI secara lebih natural. Namun jika dilihat dalam konteks Indonesia, fenomenanya sebenarnya lebih luas daripada sekadar menggunakan AI untuk menghasilkan kode. Ada suasana kerja, kebiasaan belajar, komunitas, gaya komunikasi, dan lingkungan sosial yang ikut membentuk bagaimana seorang developer bekerja. Seorang programmer bisa bekerja dari kantor pada pagi hari, berdiskusi dengan rekan satu tim pada siang hari, mencari solusi melalui komunitas pada sore hari, lalu malamnya mencoba membuat proyek pribadi dengan bantuan AI. Tempatnya pun tidak selalu formal. Ada yang bekerja dari rumah, coworking space, kampus, atau kedai kopi dengan laptop di atas meja.

Komunitas seperti Telegram, Discord, WhatsApp, forum developer, dan meetup juga memiliki peran penting. Ketika seorang developer menemukan error yang belum pernah ia temui, ia tidak harus selalu menyelesaikannya sendirian. Ia dapat bertanya kepada komunitas, membaca pengalaman orang lain, atau berdiskusi dengan developer yang pernah menghadapi masalah serupa. Kebiasaan seperti ini sebenarnya cukup dekat dengan konsep gotong royong yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Seorang senior membantu junior, developer saling melakukan code review, atau beberapa orang bersama-sama mencari penyebab sebuah bug merupakan bentuk sederhana dari kolaborasi tersebut.

Ekosistem yang Semakin Mudah Diakses

Perkembangan teknologi juga membuat hambatan untuk mulai belajar dan membuat software menjadi semakin rendah. Framework seperti React, Flutter, dan NestJS memberikan banyak pilihan bagi developer untuk membangun aplikasi. Cloud computing membuat perusahaan tidak selalu harus membeli dan mengelola seluruh infrastruktur server sendiri. Platform pembelajaran online juga membuat seseorang dari berbagai daerah dapat belajar programming tanpa harus berada di kota besar atau mengikuti pendidikan formal tertentu.

Kemudahan ini membawa perubahan yang cukup besar. Dulu, ketika menemukan error, seorang developer mungkin harus membuka buku, mencari dokumentasi, bertanya di forum, atau mencoba berbagai solusi secara manual. Sekarang, ia dapat melakukan beberapa hal tersebut hampir bersamaan dengan bantuan AI. Ia bisa memberikan pesan error kepada AI, meminta penjelasan, meminta contoh kode, lalu mencoba hasilnya dalam aplikasinya sendiri. Proses belajar dan eksperimen menjadi jauh lebih cepat.

Namun, mudah memulai tidak berarti mudah menjadi mahir. Seseorang sekarang memang bisa meminta AI membuat sebuah aplikasi dalam waktu singkat, tetapi ketika aplikasi tersebut mulai digunakan oleh banyak orang, persoalannya berubah. Pertanyaan yang muncul bukan lagi hanya “kenapa kode ini error?”, tetapi juga apakah data pengguna aman, bagaimana sistem menangani banyak transaksi sekaligus, apa yang terjadi ketika server mati, bagaimana menghadapi input yang tidak sesuai, dan bagaimana mencegah orang menyalahgunakan sistem. Di sinilah perbedaan antara prototype yang sekadar terlihat berjalan dengan software yang benar-benar siap digunakan mulai terlihat.

Gotong Royong dalam Dunia Coding

Budaya gotong royong juga dapat diterjemahkan ke dalam praktik seperti pair programming dan code review. Bayangkan seorang programmer junior mendapatkan tugas membuat sebuah fitur baru. Ia mungkin dapat menyelesaikannya sendiri, tetapi hasilnya belum tentu optimal. Ketika seorang programmer senior ikut memeriksa kodenya, diskusi bisa menghasilkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam tutorial. Senior mungkin melihat sebuah query database dan mengatakan bahwa kode tersebut memang bekerja sekarang, tetapi akan menjadi lambat ketika jumlah data mencapai jutaan record. Bagi junior, informasi seperti itu sangat berharga karena berasal dari pengalaman menghadapi masalah nyata.

Inilah salah satu alasan mengapa komunitas dan mentoring tetap penting meskipun AI semakin pintar. AI dapat menjelaskan konsep, memberikan contoh, bahkan memberikan alternatif solusi. Namun pengalaman manusia tetap memiliki nilai karena dibangun dari konteks dan kejadian yang benar-benar pernah terjadi. Seorang programmer yang pernah mengalami database rusak, server penuh, atau sistem pembayaran bermasalah tentu memiliki perspektif yang berbeda ketika memberikan saran dibandingkan sekadar memberikan potongan kode yang terlihat benar.

Teknologi Tidak Harus Menghapus Identitas Lokal

Perkembangan teknologi juga tidak berarti bahwa semua produk Indonesia harus mengikuti pola yang sama dengan produk dari negara lain. Developer Indonesia tetap dapat menggunakan teknologi global sambil memasukkan kebutuhan dan kebiasaan lokal. Contohnya dapat dilihat pada aplikasi untuk UMKM. Secara teknis, aplikasi tersebut mungkin hanya membutuhkan fitur pencatatan penjualan, stok, dan laporan keuangan. Tetapi ketika benar-benar digunakan oleh pedagang kecil, kebutuhan yang muncul bisa jauh lebih spesifik. Mereka mungkin membutuhkan pencatatan pelanggan yang masih berutang, istilah transaksi yang familiar, atau metode pembayaran yang sesuai dengan kebiasaan mereka.

Dalam kondisi seperti ini, produk yang baik bukan selalu produk dengan teknologi paling canggih. Produk yang baik adalah produk yang memahami masalah pengguna. Hal yang sama berlaku pada unsur budaya. Bahasa lokal, kebiasaan masyarakat, motif batik, hingga cara masyarakat bertransaksi dapat menjadi bagian dari sebuah produk digital. Teknologi tidak harus membuat identitas lokal hilang. Justru teknologi dapat menjadi salah satu media untuk membawa identitas tersebut ke ruang digital.

Coding yang Menyenangkan Tetap Bisa Menghasilkan Burnout

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan dunia developer: pekerjaan yang menyenangkan tetap bisa membuat seseorang lelah. Coding memang memiliki sisi yang memuaskan. Ada rasa puas ketika bug yang dicari selama berjam-jam akhirnya ditemukan atau ketika sebuah fitur yang sebelumnya hanya berupa ide akhirnya benar-benar berjalan. Masalah muncul ketika rasa puas tersebut membuat seseorang terus bekerja tanpa batas.

Kalimat seperti “sekalian diselesaikan malam ini”, “tinggal sedikit lagi”, atau “coba satu fitur lagi” mungkin terdengar biasa bagi programmer.

Tetapi jika dilakukan terus-menerus, jam kerja dapat perlahan melebar. Laptop yang seharusnya ditutup pada sore hari masih menyala pada malam hari dan akhir pekan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat berubah menjadi waktu untuk memperbaiki bug. Dari sinilah burnout dapat muncul.

Karena itu, lingkungan kerja yang menyenangkan bukan berarti kantor harus menyediakan kopi, musik, bean bag, atau ruang bermain. Yang lebih penting adalah apakah developer memiliki ruang untuk bekerja dengan baik sekaligus memiliki waktu untuk berhenti bekerja. Fleksibilitas kerja, batas jam kerja yang jelas, kesempatan beristirahat, dan lingkungan yang memungkinkan seseorang mengatakan bahwa ia sudah terlalu lelah jauh lebih penting daripada sekadar membuat kantor terlihat menyenangkan.

Ketika AI Mengubah Cara Orang Ngoding

Perubahan paling besar dalam vibe coding saat ini tentu saja datang dari AI. Ketika mengalami error, developer sekarang dapat langsung memberikan kode dan pesan kesalahan kepada AI kemudian meminta penjelasan. Untuk pekerjaan tertentu, hal ini memang sangat membantu. Prototype yang sebelumnya membutuhkan beberapa hari dapat dibuat dalam waktu yang jauh lebih singkat. AI juga dapat membantu membuat boilerplate, menjelaskan kode lama, membuat test, mencari kemungkinan penyebab bug, atau memberikan alternatif implementasi.

Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati dengan satu kalimat yang semakin sering terdengar: “Pakai AI saja.” Kalimat ini memang terdengar praktis, tetapi dapat menjadi masalah ketika digunakan untuk meremehkan persoalan yang sebenarnya kompleks. Misalnya, sebuah aplikasi pembayaran mengalami transaksi ganda. AI mungkin dapat membantu membaca kode dan menemukan bagian yang mencurigakan. Namun AI tidak otomatis mengetahui seluruh alur bisnis perusahaan, bagaimana payment gateway mencatat transaksi, apakah database menerima request dua kali, atau apa yang harus dilakukan ketika pelanggan benar-benar kehilangan uang.

Persoalannya bukan apakah AI bisa membantu. Tentu saja bisa. Persoalannya adalah apakah manusia masih mau memahami masalah yang sedang dihadapi. Bayangkan sebuah sistem penggajian perusahaan tiba-tiba menunjukkan perubahan angka gaji beberapa karyawan. Jika respons pertama hanya “masukkan ke AI saja”, maka masalah sebenarnya belum tersentuh. Yang perlu dicari adalah mengapa data berubah, siapa yang melakukan perubahan, apakah database masih konsisten, apakah ada bug dalam proses perhitungan, apakah data berubah hanya di tampilan atau memang di database, dan apakah perubahan tersebut sudah memengaruhi pembayaran karyawan.

Semakin mudah kita menghasilkan kode, semakin mudah pula kita menganggap sebuah masalah sederhana. Padahal software tidak hanya berisi kode. Software berhubungan dengan uang, data pribadi, operasional perusahaan, pekerjaan orang, bahkan keputusan yang dapat berdampak langsung kepada manusia. Karena itu, vibe coding seharusnya dipahami sebagai cara baru untuk bekerja, bukan sebagai alasan untuk menghilangkan kemampuan teknis dan kemampuan berpikir.

Programmer Bukan Sekadar Orang yang Bisa Membuat Kode

Kemunculan AI juga dapat memperkuat stigma lama terhadap programmer. Sebelumnya programmer kadang dianggap sebagai orang yang hanya duduk di depan komputer atau bermain game. Sekarang muncul versi baru dari anggapan tersebut:

"Programmer dianggap hanya perlu mengetik beberapa kalimat kepada AI lalu aplikasi selesai."

Padahal, membuat aplikasi jauh lebih kompleks daripada menghasilkan kode. Misalnya AI berhasil membuat aplikasi absensi siswa menggunakan QR Code. Setelah kodenya selesai, masih ada pertanyaan yang lebih penting. Apakah QR Code dapat dipalsukan? Bagaimana jika siswa memotret QR Code lalu mengirimkannya kepada temannya? Bagaimana sistem memastikan siswa benar-benar berada di sekolah? Apa yang terjadi ketika internet mati? Siapa yang boleh mengubah data absensi? Bagaimana data siswa dilindungi? Bagaimana jika server mengalami kerusakan?

AI mungkin dapat membantu menjawab sebagian pertanyaan tersebut, tetapi tetap dibutuhkan manusia yang memahami konteks dan bertanggung jawab terhadap keputusan akhirnya. Seorang programmer tidak hanya dibutuhkan karena mampu mengetik kode. Ia dibutuhkan karena mampu memahami masalah, mengambil keputusan teknis, mempertimbangkan risiko, dan memastikan solusi benar-benar bekerja dalam kondisi nyata.

Infrastruktur Masih Menjadi Tantangan

Vibe coding juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi infrastruktur digital. Tidak semua developer di Indonesia memiliki koneksi internet yang cepat dan stabil. Developer yang berada di kota besar mungkin sudah terbiasa menggunakan cloud, repository online, AI coding assistant, dan berbagai layanan SaaS. Namun kondisi tersebut belum tentu sama di daerah lain.

Bayangkan seorang developer sedang memperbaiki aplikasi menggunakan AI. Ia mengirimkan source code, kemudian menunggu jawaban. Tiba-tiba koneksi terputus. Ia mencoba lagi, tetapi koneksi kembali lambat. Teknologi yang seharusnya mempercepat pekerjaan akhirnya justru menjadi hambatan. Ini menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai AI dan vibe coding tidak dapat hanya berfokus pada software. Infrastruktur dasar tetap menentukan siapa yang dapat mengikuti perkembangan teknologi dan siapa yang tertinggal.

Stigma terhadap Programmer Belum Sepenuhnya Hilang

Masalah lain yang cukup sederhana tetapi masih relevan adalah persepsi terhadap pekerjaan programmer. Sebagian orang masih melihat programmer sebagai pekerjaan yang hanya duduk di depan komputer. Ketika AI membuat proses coding terlihat semakin mudah, persepsi tersebut dapat semakin kuat. Seseorang melihat developer mengetik beberapa kalimat ke AI kemudian beberapa menit kemudian muncul aplikasi. Yang tidak terlihat adalah pekerjaan di belakangnya: analisis kebutuhan, desain database, keamanan, testing, deployment, monitoring, backup, dan maintenance.

Ketika aplikasi bermasalah pada tengah malam, tetap ada seseorang yang harus mencari tahu apa yang terjadi. Karena itu, apa yang terlihat sebagai “mengetik beberapa perintah” sebenarnya hanya sebagian kecil dari pekerjaan seorang developer.

Komunitas Membantu, tetapi Informasi Tetap Harus Diverifikasi

Komunitas merupakan salah satu kekuatan terbesar dunia developer, tetapi komunitas juga bukan tempat yang selalu benar. Sebuah solusi yang berhasil pada satu proyek belum tentu cocok pada proyek lain. Misalnya seseorang bertanya tentang konfigurasi server dan mendapatkan solusi dari anggota komunitas. Solusi tersebut berhasil diterapkan, kemudian dibagikan kembali kepada orang lain. Setelah beberapa orang berhasil menggunakannya, solusi tersebut akhirnya dianggap sebagai “cara yang benar”.

Padahal bisa saja solusi tersebut hanya cocok untuk versi software tertentu atau konfigurasi server tertentu. Bahkan mungkin solusi tersebut berhasil tetapi memiliki konsekuensi keamanan yang belum terlihat. Hal yang sama berlaku pada AI. Jawaban AI dapat terlihat sangat meyakinkan meskipun tidak selalu benar. Karena itu, kemampuan penting di era AI bukan hanya kemampuan bertanya kepada AI, tetapi juga kemampuan memeriksa dan menguji jawaban yang diberikan.

Keuntungan dan Tantangan Vibe Coding di Indonesia

Jika digunakan dengan benar, vibe coding memberikan beberapa keuntungan yang cukup nyata. Kolaborasi menjadi lebih mudah karena developer dapat memanfaatkan komunitas, pengalaman senior, dan AI sebagai alat bantu ketika mengalami kebuntuan. Prototyping juga menjadi lebih cepat karena ide yang sebelumnya hanya berupa konsep dapat segera dibuat dan diuji. Orang yang kemampuan teknisnya belum terlalu tinggi pun memiliki kesempatan untuk bereksperimen dan memahami bagaimana sebuah produk digital dibuat.

Di sisi lain, tantangannya juga cukup besar. Infrastruktur internet perlu terus diperbaiki agar kesempatan tidak hanya dimiliki developer di kota besar. Pendidikan IT perlu berkembang sehingga tidak hanya mengajarkan syntax dan framework, tetapi juga keamanan, etika, cara berpikir sistematis, dan dampak teknologi terhadap manusia. Hubungan antara developer senior dan junior juga perlu dipertahankan karena AI tidak seharusnya membuat proses mentoring menjadi hilang. Perusahaan pun perlu memahami bahwa produktivitas bukan berarti developer harus selalu online. Orang yang bekerja dua belas jam sehari belum tentu menghasilkan software yang lebih baik daripada orang yang bekerja delapan jam dengan fokus dan memiliki waktu istirahat yang cukup.

Ke Mana Vibe Coding Akan Bergerak?

Kemungkinan besar AI akan menjadi bagian normal dari pekerjaan software development. Membuat kode dari nol mungkin semakin jarang menjadi satu-satunya ukuran kemampuan programmer. Developer akan lebih banyak berperan sebagai orang yang menentukan apa yang harus dibuat, bagaimana sistem tersebut bekerja, bagaimana memastikan hasil AI benar, dan bagaimana menghubungkan teknologi dengan kebutuhan bisnis.

Artinya, nilai seorang programmer mungkin perlahan bergeser dari pertanyaan “seberapa cepat kamu bisa menulis kode?” menjadi “seberapa baik kamu memahami masalah yang harus diselesaikan?”. AI dapat membuat kode, menjelaskan kode, mencari kemungkinan bug, bahkan membantu membuat aplikasi. Tetapi keputusan mengenai apakah aplikasi tersebut benar-benar dibutuhkan, aman, masuk akal, dan dapat dipertanggungjawabkan tetap membutuhkan manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting dalam era vibe coding mungkin bukan “AI bisa membuat apa?”, tetapi “kita sebenarnya sedang mencoba menyelesaikan masalah apa?” Jika pertanyaan tersebut masih dapat dijawab dengan jelas, AI akan menjadi alat yang sangat kuat. Tetapi jika kita bahkan tidak memahami masalahnya, kemampuan AI yang semakin besar justru bisa membuat kita menghasilkan solusi dengan semakin cepat untuk masalah yang sebenarnya tidak pernah perlu diselesaikan.

Karena itu, tantangan terbesar vibe coding di Indonesia mungkin bukan sekadar belajar bagaimana membuat kode lebih cepat. Tantangannya adalah belajar kapan harus menggunakan AI, kapan harus bertanya kepada manusia, kapan harus melakukan verifikasi, dan kapan harus berhenti sejenak untuk memahami masalah.

Vibe coding akan menjadi sesuatu yang bermanfaat jika teknologi membuat manusia menjadi lebih produktif tanpa membuat manusia berhenti berpikir. Sebab pada akhirnya, software bukan dibuat untuk mengesankan komputer. Software dibuat untuk menyelesaikan masalah manusia.

Bagikan artikel ini

WhatsApp X https://www.sukasapi.com/s/ZVw8AZW

BERLANGGANAN

Dapatkan Artikel Terbaru

Ingin dapat update artikel terbaru? Hubungi saya lewat form kontak.

KE HALAMAN KONTAK

Artikel Terkait

LIHAT SEMUA ARTIKEL